Kamis, 30 Juli 2009

EKSPLOITASI INDUSTRI KEPADA KAUM INDEPENDEN.

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar atau membaca kata independen? Merdeka. Sudah pasti, karena dalam istilah memang seperti itu artinya. Tetapi bagi sebagian besar orang, independen adalah sebuah paham (pemuda) yang berisi “ajaran-ajaran” mengenai kebebasan, yang mana salah satunya yang akan kita bahas adalah kebebasan dalam bermusik.

Dalam konteks musik independen, kebebasan adalah hal yang paling utama, baik dari segi musikalitas, cara pandang mengenai suatu hal, lirik, pendanaan yang swadaya, bahkan distribusi karya mereka. Dan semua hal yang berkaitan dengan independen adalah hal-hal yang sifatnya out of the box, beda! Sebagai jiwa muda memang sah-sah saja ketika pola pikir yang mereka argumentasikan sangat kontradiktif dengan cara berpikir masyarakat pada umumnya. Tidak ada aturan yang mengikat, seakan bebas berlari kemanapun yang mereka inginkan, tetapi tetap saja ada norma-norma yang berlaku dalam konteks independen itu sendiri.

Tetapi apa jadinya bila budaya independen tersebut menjelma menjadi budaya mainstream? budaya yang tidak memiliki prinsip pasti tentang apa yang mereka pertaruhkan, perjuangkan, bahkan yang mereka lakukan. Istilah gampangnya adalah budaya dimana para penganutnya berpikiran apapun yang sedang happening saat ini, maka saat itulah mereka berganti prinsip. Tidak bisa dipungkiri bahwa budaya independen sedang menjadi tren anak muda jaman sekarang. Tercermin dari lagu-lagu yang ada di playlist mereka, ataupun hanya sekedar fashion yang mereka terapkan sehari-hari. Jadi dapat dikatakan bahwa budaya independen adalah barang dagangan yang sedang diminati. Damn!

Dengan berlangsungnya keadaan seperti itu, maka para “tim pencari bakat” dari pihak-pihak yang mengatas namakan dirinya sebagai pemilik modal merasa perlu untuk terjun mencari celah dalam independen, karena mereka berpikir bahwa ada peluang disana. Peluang dimana dagangan mereka bisa laku dan menghasilkan laba. Maka jangan heran bila semakin banyak distribution outlet (distro) yang tumbuh di sekitar kita. Tidak salah memang, toh beberapa (sedikit) dari mereka support terhadap perkembangan band-band dan scene di sini. Itu dari segi fashion, yang memang penting bagi banyak orang. Dalam hal musik juga sebenarnya tidak jauh berbeda. Para pemilik modal saat ini sedang gencar-gencarnya mencuri band-band independen dan mereka pergunakan sebagai barang dagangan. Contohnya sudah kerap terjadi, diantaranya ketika sebuah acara musik digelar oleh sebuah brand besar (dan parahnya lagi mereka adalah investor asing!). Sebagian besar pengisi acara, bahkan band utama yang mereka adalah band-band yang lahir dari komunitas independen. Band-band dari kelompok yang merupakan counter dari budaya mainstream, ber-idealis tinggi, bahkan sebagian dari mereka berprinsip anti kemapanan. Sedikit aneh memang bila diteliti lebih jauh. Mereka tampil dengan sound yang megah, panggung besar dihiasi seni pencahayaan yang menawan, dan yang terpenting adalah mereka tampil tidak gratis. Tidak dibayar hanya dengan beberapa botol minuman, atau beberapa bungkus nasi campur yang hanya berisi nasi tahu tempe, tetapi ada uang di dalamnya. Lalu apa salahnya bila fokus mereka kepada fee yang ditawarkan? Tidak salah memang. Toh semunya butuh uang. Hanya saja dalam kaidah independen hal tersebut sedikit tidak bisa dibenarkan, karena fokus utama dari independen adalah menyuarakan paradigma baru yang positif, tidak terpaku dengan prinsip kapitalis. Dan komersialisasi memang diperlukan untuk menunjang masing-masing band tersebut, contohnya seperti pembelian equipment, biaya studio, dan sebagainya, tetapi alangkah baiknya apabila dalam proses tersebut masih terdapat batas-batas norma independen agar terkesan berbeda dengan band produksi budaya mainstream. Di sisi lain, dalam sebuah band memang dibutuhkan publikasi, dalam artian promosi band mereka sendiri. Dengan performance mereka di acara semacam tersebut, maka penonton tidak hanya berasal dari komunitas independen saja, tetapi meliputi khalayak umum. Dan selain itu, publikasi besar-besaran juga akan berimbas kepada band, misalnya dengan penyebaran baliho di spot-spot terpilih yang mana nama band akan tersebut disitu. Untuk menyikapinya, saya rasa tidak masalah dengan pemanfaatan band independen oleh sebuah brand sebagai penarik massa, asalkan terdapat sebuah proses simbiosis mutualisme didalamnya, sebuah proses yang saling menguntungkan.

Dengan contoh kasus di atas apakah bisa disebut eksploitasi musik dan fashion independen oleh para pekerja industri? Bisa iya, bisa juga tidak. Dikatakan eksploitasi karena para pengusaha tersebut memanfaatkan sesuatu yang bukan miliknya, atau merebut hak-hak kaum independen. Kenapa? Karena kita merasa mereka tidak ikut melahirkan scene ini, membesarkan, apalagi mengurus. Yang mereka tahu hanya bagaimana barang dagangannya bisa habis terjual. Ditambah lagi dengan tidak adanya idealisme yang menjadi kekuatan kelompok independen sendiri. Banyak contoh yang terjadi ketika tidak terjadi proses saling menguntungkan oleh kedua pihak. Sang pemilik modal berusaha mengeluarkan dana seminim-minimnya untuk mendapat laba sebanyak mungkin. Yakni dengan mencari band-band potensial yang bernilai jual dan memiliki massa, tapi mereka tidak menyiapkan anggaran untuk itu. Alhasil, band berhasil dibawa ke atas panggung dengan iming-iming namanya terpampang di sudut-sudut kota dan perform diatas wonderful stage. What the?! Apa yang mereka cari sebenarnya? Popularitas? Benar-benar payah. Sementara hal lainnya yang merubah pendapat menjadi tidak di eksploitasi adalah karena band tersebut memang mau dijadikan anak angkat brand tersebut. Alasannya cukup klasik dan masuk akal, uang. Seperti pendapat di atas bahwa uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang. Selain itu karena dari pihak band memang sudah memiliki kapasitas yang mumpuni untuk “disewa”, dalam artian mereka memiliki manajemen yang bagus, musikalitas diatas rata-rata, dan penampilan yang menghibur. Dengan faktor tersebut maka pudarlah image eksploitasi tersebut. Karena tidak mungkin juga apabila sebuah band hanya berjalan di tempat, apalagi bagi mereka yang memang sudah “pantas” untuk maju, kenapa tidak. Toh itu juga salah satu alternatif cara untuk show up ditengah hancurnya pasar Indonesia saat ini yang dikuasai band menye-menye. Salah satu cara untuk bertahan hidup dan menghindari kata stagnansi, ya semacam iseng-iseng berhadiah lah.

Lalu apakah perlu men-judge bahwa hal tersebut merupakan eksploitasi atau tidak? Semacam mencari dalang dari fenomena rotasi kehidupan komunitas tersebut? Sepertinya tidak. Semua orang yang berkecimpung disini tentu berharap adanya kebijakan berpikir dari masing-masing individu maupun kelompok, toh semua juga dilakukan demi kelangsungan hidup mereka sendiri. Terlalu naif memang bila menyikapi hal tersebut melalui satu sudut pandang saja, karena pendapat tiap orang pasti berbeda, meskipun akan selalu ada kata relativisme di dalamnya, sebuah pendapat yang membenarkan dirinya tanpa peduli pendapat orang lain. Mari mencoba untuk berpikir bukan mengenai siapa pelakunya atau siapa yang salah, tetapi bicarakan topik mengenai mengapa mereka seperti itu, apa manfaat baik yang bisa diambil, dan yang terpenting bagaimana mereka mampu melakukan hal luar biasa tersebut agar mampu menjadi panutan bagi mereka yang belum “maju”. Satu point yang bisa kita garis bawahi adalah ketika dunia ini mempercepat laju putarannya, dimana mereka mulai membutuhkan kita, maka kitapun berada di atas. Tidak lagi menjadi minoritas, tidak lagi terinjak, tetapi kitalah yang berperan, kita yang menentukan arah angin, dan kita adalah penguasa. God bless you!

Mei 2009

Pengikut

I tell you who I am..

Foto saya
seorang pemuda yang tergilas arus global, berusaha untuk diakui meskipun sebenarnya sudah.. hidup di sebuah kota yang luar biasa.. bergabung dengan sebuah band bernama PICKWOLF,,dan sedang menyelesaikan tahap akhir untuk gelar sarjana sosial..