youthagainstspeechless

Senin, 24 Agustus 2009

Sebuah Persembahan Kepada Indonesia Dengan Cara Kita

Baru saja saya menyaksikan sebuah interview singkat kepada band Superman Is Dead, oleh sebuah acara bernama “Showbiz” di salah satu stasiun televisi swasta. Sang juru bicara, Jerinx (drummer SID) bercerita banyak seputar perjalanan mereka di Vans Warped Tour, sebuah konser musim panas yang diselenggarakan secara kontinyu setiap tahunnya di Amerika. Secara garis besar Jerinx mengungkapkan bahwa show mereka disana berjalan “sukses” dan tidak seperti dugaan mereka sebelumnya. Dilihat dari CD (compact disc) album terbaru mereka yang habis terjual, kemudian banyaknya komentar positif dari para penikmat musik di Amerika yang dikenal tidak mengenal istilah “sungkan”, dan yang membuat saya cukup terkejut adalah mereka memiliki 11 kota di show schedule mereka! Mengherankan buat saya, karena rata-rata band yang mengikuti parade tersebut, apalagi sekelas SID yang baru kali pertama menembus Vans Warped Tour biasanya hanya memiliki 3 kota untuk show-nya. Tetapi tidak dengan SID yang merupakan satu-satunya delegasi Indonesia, dan satu-satunya wakil dari Asia! Hebat bukan?

Beberapa waktu lalu juga sempat saya baca sebuah tulisan perjalanan band Burgerkill di beberapa media cetak dan Internet, yang ditulis oleh sang gitaris, Agung kalau tidak salah. Beliau bercerita mengenai perjalanan tour Burgerkill di Australia, secara lengkap dan terkesan apa adanya. Mulai dari persiapan keberangkatan, sepanjang perjalanan, perasaan mereka ketika tiba di Australia, mahalnya studio latihan, hingga bagaimana sikap panitia acara terhadap artis. Semuanya diceritakan dengan gamblang. Bagi anda yang membacanya sudah pasti memiliki kebanggaan tersendiri telah menjadi bagian dari Indonesia, khususnya penikmat maupun pelaku dunia musik bawah tanah. Banyak lagi cerita yang saya baca ataupun saya lihat mengenai kehebatan band-band “Kita” di ranah internasional, seperti Shaggydog yang pernah show di Negara kincir angin Belanda dengan ratusan, atau bahkan ribuan penonton bergoyang, dengan sound berhias bendera merah putih. Kemudian band Noxa yang sempat manggung di Finlandia, di sebuah metal show akbar di Eropa. Tetapi yang kemudian terbesit di benak saya ketika membaca cerita-cerita tersebut adalah bagaimana pandangan pemerintah dan anak buahnya ketika mengetahui hal tersebut. Apa perasaan yang mereka rasakan? Bagaimana label-label industri musik di Indonesia memandang hal tersebut? Dan beberapa saat kemudian pikiran saya menjawab, “NIHIL”!!

Di akhir wawancara Jerinx mengatakan keinginannya yang saya setujui bila itu adalah doa kaum Independen, yakni “Semoga SID mampu menampar industri musik Indonesia, menyadarkan mereka agar lebih jeli memilih band. Indonesia banyak memiliki band bagus, band yang tidak seragam. Tetapi wadah dan penikmatnya yang kurang apresiatif”. Dalam hati saya berpikir, kenapa kita juga masih disini-sini saja? Bila mereka saja bisa, kenapa tidak dengan kita? Tetapi kembali lagi kepada segmen penikmat musik di Indonesia yang masih bodoh dengan band menye-menye nya. Perlu kita akui bahwa semuanya terserah pendengar dan pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan menjamurnya band-band Allahualam tersebut. Tapi bukan berarti menutup jalan kita untuk berkreasi kan?

Mengapa saya bisa mengatakan jalan kita sengaja ditutup oleh mereka? Banyak fakta yang membuktikan bahwa mereka (orang-orang yang harus bertanggung jawab) secara sengaja membatasi pergerakan kita sebagai pelaku musik Independen di Indonesia. Contoh kecilnya adalah penghentian acara musik jalanan yang rutin diadakan setiap akhir pekan di bulan puasa oleh sebuah studio musik ternama di Kota Malang. Padahal acara tersebut ber-embel-embel amal, dan saya yakin tidak mengganggu ribuan orang yang berlalu-lalang menunggu waktu berbuka puasa di sekitaran jalan Sukarno-Hatta Malang. Entah apa yang ada di pikiran mereka, intinya acara live music tetap tidak bisa dilaksanakan. Bisa diadakan dengan syarat pertunjukkan digelar dengan format akustik, alias tanpa distorsi! Tidak masalah bila beberapa menganggap sebagai tantangan dalam berkreasi, tetapi tetap saja tidak sesuai kaidah musik bagi sebagian besar band artisnya. Belum lagi cerita-cerita mengenai rumitnya mengadakan sebuah acara underground yang biasanya dipersulit dibagian birokrasi penyewaan venue, atau perizinan keamanan. Semuanya bagaikan subsistem yang disebar oleh orang yang tidak menginginkan musik ini berkembang.

Apa yang sebenarnya kita lakukan? Mengganggu mereka? Tidak kan. Justru bila mereka jeli dalam memanfaatkan situasi hal ini dapat menjadi komoditas yang luar biasa menguntungkan, mengingat underground tengah menjadi tren saat sekarang. Tetapi memang perbedaan budaya disini yang menjadi akar permasalahannya. Bagi kita yang mampu hidup di dunia seperti ini, kita mampu menikmatinya. Bagi mereka yang tidak, ya monggo cari hiburan yang lain sesuai selera masing-masing. Akan tetapi kembali kepada masalah tujuan masing-masing pihak, jangan menutup jalan orang lain untuk berkembang. Apalagi yang ditutup adalah calon orang-orang yang mampu membangkitkan gairah dan selera musik Indonesia.

Negara ini memang bukan orientasi pasar yang cocok bagi kita, jadi apa yang dilakukan band-band di atas adalah salah satu alternatif jalan yang bisa kita pilih. Tidak perlu bingung bagaimana untuk memulainya. Jaman sekarang fasilitas sudah terpenuhi dengan adanya teknologi yang disebut internet. Sudah banyak cara-cara dari mereka yang lebih dahulu mampu menembus panggung internasional, belajarlah dari situ. Carilah koneksi sebanyak-banyaknya, entah teman, band, atau bahkan label-label luar negeri. Tidak perlu malu atau minder, band sekelas Underoath saat ini juga ternyata memiliki mini album yang secara kualitas rekaman dan materi lagu yang tidak seberapa dulunya. Tergantung usaha kita, bagaimana mencari keuntungan dari pihak label atau lainnya, bukankah orang Indonesia seperti kita dikenal cerdik dalam urusan menjalin hubungan? Hahahaa. Yakinkan mereka bahwa band kalian bagus, lebih bagus dari band Amerika. Masalah biaya, tidak akan terasa berat jika kita memang sudah niat dari awal ingin melakukan gebrakan tersebut. Intinya yakin dengan apa yang kita lakukan maka semua akan terlihat lebih baik. Dan dari keyakinan tersebut akan tercipta sebuah energi tambahan untuk berusaha semaksimal mungkin. Mari bersama-sama belajar untuk menjadi lebih baik, melompat melewati step-step yang seharusnya dilakukan orang pada umumnya, karena kita berbeda! Kita lebih baik.

Kamis, 30 Juli 2009

EKSPLOITASI INDUSTRI KEPADA KAUM INDEPENDEN.

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar atau membaca kata independen? Merdeka. Sudah pasti, karena dalam istilah memang seperti itu artinya. Tetapi bagi sebagian besar orang, independen adalah sebuah paham (pemuda) yang berisi “ajaran-ajaran” mengenai kebebasan, yang mana salah satunya yang akan kita bahas adalah kebebasan dalam bermusik.

Dalam konteks musik independen, kebebasan adalah hal yang paling utama, baik dari segi musikalitas, cara pandang mengenai suatu hal, lirik, pendanaan yang swadaya, bahkan distribusi karya mereka. Dan semua hal yang berkaitan dengan independen adalah hal-hal yang sifatnya out of the box, beda! Sebagai jiwa muda memang sah-sah saja ketika pola pikir yang mereka argumentasikan sangat kontradiktif dengan cara berpikir masyarakat pada umumnya. Tidak ada aturan yang mengikat, seakan bebas berlari kemanapun yang mereka inginkan, tetapi tetap saja ada norma-norma yang berlaku dalam konteks independen itu sendiri.

Tetapi apa jadinya bila budaya independen tersebut menjelma menjadi budaya mainstream? budaya yang tidak memiliki prinsip pasti tentang apa yang mereka pertaruhkan, perjuangkan, bahkan yang mereka lakukan. Istilah gampangnya adalah budaya dimana para penganutnya berpikiran apapun yang sedang happening saat ini, maka saat itulah mereka berganti prinsip. Tidak bisa dipungkiri bahwa budaya independen sedang menjadi tren anak muda jaman sekarang. Tercermin dari lagu-lagu yang ada di playlist mereka, ataupun hanya sekedar fashion yang mereka terapkan sehari-hari. Jadi dapat dikatakan bahwa budaya independen adalah barang dagangan yang sedang diminati. Damn!

Dengan berlangsungnya keadaan seperti itu, maka para “tim pencari bakat” dari pihak-pihak yang mengatas namakan dirinya sebagai pemilik modal merasa perlu untuk terjun mencari celah dalam independen, karena mereka berpikir bahwa ada peluang disana. Peluang dimana dagangan mereka bisa laku dan menghasilkan laba. Maka jangan heran bila semakin banyak distribution outlet (distro) yang tumbuh di sekitar kita. Tidak salah memang, toh beberapa (sedikit) dari mereka support terhadap perkembangan band-band dan scene di sini. Itu dari segi fashion, yang memang penting bagi banyak orang. Dalam hal musik juga sebenarnya tidak jauh berbeda. Para pemilik modal saat ini sedang gencar-gencarnya mencuri band-band independen dan mereka pergunakan sebagai barang dagangan. Contohnya sudah kerap terjadi, diantaranya ketika sebuah acara musik digelar oleh sebuah brand besar (dan parahnya lagi mereka adalah investor asing!). Sebagian besar pengisi acara, bahkan band utama yang mereka adalah band-band yang lahir dari komunitas independen. Band-band dari kelompok yang merupakan counter dari budaya mainstream, ber-idealis tinggi, bahkan sebagian dari mereka berprinsip anti kemapanan. Sedikit aneh memang bila diteliti lebih jauh. Mereka tampil dengan sound yang megah, panggung besar dihiasi seni pencahayaan yang menawan, dan yang terpenting adalah mereka tampil tidak gratis. Tidak dibayar hanya dengan beberapa botol minuman, atau beberapa bungkus nasi campur yang hanya berisi nasi tahu tempe, tetapi ada uang di dalamnya. Lalu apa salahnya bila fokus mereka kepada fee yang ditawarkan? Tidak salah memang. Toh semunya butuh uang. Hanya saja dalam kaidah independen hal tersebut sedikit tidak bisa dibenarkan, karena fokus utama dari independen adalah menyuarakan paradigma baru yang positif, tidak terpaku dengan prinsip kapitalis. Dan komersialisasi memang diperlukan untuk menunjang masing-masing band tersebut, contohnya seperti pembelian equipment, biaya studio, dan sebagainya, tetapi alangkah baiknya apabila dalam proses tersebut masih terdapat batas-batas norma independen agar terkesan berbeda dengan band produksi budaya mainstream. Di sisi lain, dalam sebuah band memang dibutuhkan publikasi, dalam artian promosi band mereka sendiri. Dengan performance mereka di acara semacam tersebut, maka penonton tidak hanya berasal dari komunitas independen saja, tetapi meliputi khalayak umum. Dan selain itu, publikasi besar-besaran juga akan berimbas kepada band, misalnya dengan penyebaran baliho di spot-spot terpilih yang mana nama band akan tersebut disitu. Untuk menyikapinya, saya rasa tidak masalah dengan pemanfaatan band independen oleh sebuah brand sebagai penarik massa, asalkan terdapat sebuah proses simbiosis mutualisme didalamnya, sebuah proses yang saling menguntungkan.

Dengan contoh kasus di atas apakah bisa disebut eksploitasi musik dan fashion independen oleh para pekerja industri? Bisa iya, bisa juga tidak. Dikatakan eksploitasi karena para pengusaha tersebut memanfaatkan sesuatu yang bukan miliknya, atau merebut hak-hak kaum independen. Kenapa? Karena kita merasa mereka tidak ikut melahirkan scene ini, membesarkan, apalagi mengurus. Yang mereka tahu hanya bagaimana barang dagangannya bisa habis terjual. Ditambah lagi dengan tidak adanya idealisme yang menjadi kekuatan kelompok independen sendiri. Banyak contoh yang terjadi ketika tidak terjadi proses saling menguntungkan oleh kedua pihak. Sang pemilik modal berusaha mengeluarkan dana seminim-minimnya untuk mendapat laba sebanyak mungkin. Yakni dengan mencari band-band potensial yang bernilai jual dan memiliki massa, tapi mereka tidak menyiapkan anggaran untuk itu. Alhasil, band berhasil dibawa ke atas panggung dengan iming-iming namanya terpampang di sudut-sudut kota dan perform diatas wonderful stage. What the?! Apa yang mereka cari sebenarnya? Popularitas? Benar-benar payah. Sementara hal lainnya yang merubah pendapat menjadi tidak di eksploitasi adalah karena band tersebut memang mau dijadikan anak angkat brand tersebut. Alasannya cukup klasik dan masuk akal, uang. Seperti pendapat di atas bahwa uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang. Selain itu karena dari pihak band memang sudah memiliki kapasitas yang mumpuni untuk “disewa”, dalam artian mereka memiliki manajemen yang bagus, musikalitas diatas rata-rata, dan penampilan yang menghibur. Dengan faktor tersebut maka pudarlah image eksploitasi tersebut. Karena tidak mungkin juga apabila sebuah band hanya berjalan di tempat, apalagi bagi mereka yang memang sudah “pantas” untuk maju, kenapa tidak. Toh itu juga salah satu alternatif cara untuk show up ditengah hancurnya pasar Indonesia saat ini yang dikuasai band menye-menye. Salah satu cara untuk bertahan hidup dan menghindari kata stagnansi, ya semacam iseng-iseng berhadiah lah.

Lalu apakah perlu men-judge bahwa hal tersebut merupakan eksploitasi atau tidak? Semacam mencari dalang dari fenomena rotasi kehidupan komunitas tersebut? Sepertinya tidak. Semua orang yang berkecimpung disini tentu berharap adanya kebijakan berpikir dari masing-masing individu maupun kelompok, toh semua juga dilakukan demi kelangsungan hidup mereka sendiri. Terlalu naif memang bila menyikapi hal tersebut melalui satu sudut pandang saja, karena pendapat tiap orang pasti berbeda, meskipun akan selalu ada kata relativisme di dalamnya, sebuah pendapat yang membenarkan dirinya tanpa peduli pendapat orang lain. Mari mencoba untuk berpikir bukan mengenai siapa pelakunya atau siapa yang salah, tetapi bicarakan topik mengenai mengapa mereka seperti itu, apa manfaat baik yang bisa diambil, dan yang terpenting bagaimana mereka mampu melakukan hal luar biasa tersebut agar mampu menjadi panutan bagi mereka yang belum “maju”. Satu point yang bisa kita garis bawahi adalah ketika dunia ini mempercepat laju putarannya, dimana mereka mulai membutuhkan kita, maka kitapun berada di atas. Tidak lagi menjadi minoritas, tidak lagi terinjak, tetapi kitalah yang berperan, kita yang menentukan arah angin, dan kita adalah penguasa. God bless you!

Mei 2009

Rabu, 21 Januari 2009

Plagiasi : Kejahatan / Keterbiasaan??


Salah satu sebab kenapa musik di Indonesia selalu berpolemik, karena kurangnya apresiasi yang positif kepada pelakunya (yang memang patut di apresiasi) oleh pendengar. Terkadang sebagai sekedar pendengar kita kurang bijak dalam berkomentar mengenai sebuah karya, termasuk dalam kasus plagiasi..

Plagiasi adalah sebuah kejahatan seni, pencurian ide atau hasil karya orang lain yang dilakukan secara sengaja dimana hanya merubah identitas asli dengan yang baru. Bisa dikatakan bahwa plagiasi adalah menyontek, seperti saat kita ujian sekolah, dimana hasilnya sama tetapi berbeda nama. Plagiasi kerap terjadi di segala aspek kegiatan manusia, mulai dari pendidikan, bisnis, sosial budaya, sampai pada bidang seni. Disini saya tidak dapat berkalkulasi di bidang mana plagiasi paling banyak dilakukan, karena hal tersebut merata pada tiap-tiap bagiannya. Di pendidikan, mulai dari para siswa SD yang sudah diajarkan meng ”copy-paste” tugas-tugas maupun materi dari internet bahkan sampai pada tahap skripsi yang dilakukan para mahasiswa tidak lepas dari plagiasi. Di bidang bisnis malah tidak perlu ditanyakan lagi. Dalam bisnis barang siapa yang bisa meraup keuntungan melimpah maka pengikutnya akan bertambah banyak dan itu sudah seperti hukum alam yang tidak bisa dirubah. Dari aspek sosial budaya, yang mana terdapat unsur seni di dalamnya adalah aspek yang sepertinya paling anti dengan plagiasi, tetapi hal tersebut tetap berkembang meskipun dari para pelakunya terkadang beralasan mengenai kemiripan sebuah karya adalah sebuah ketidak sengajaan. Tetapi bila ditelisik beberapa karya “baru” yang disandingkan dengan karya asalnya akan terpikir sebuah kata, Mustahil! Ya, sangat mustahil bila sebuah kemiripan menjadi alasan beberapa oknum untuk menghindari kata plagiasi. Contoh kasus ketika tempo lalu beredar di internet dimana sebuah lagu daerah dari Indonesia diklaim adalah lagu dari negara malay, memang liriknya berbeda tetapi coba anda bandingkan aransemen musik dari lagu tersebut, karena tidak mungkin dua orang yang berbeda mampu menciptakan sesuatu yang sama persis. Jangankan dua orang, seseorang saja bila dituntut menciptakan sebuah karya seni sebanyak dua kali saja hasilnya tidak akan sama. Heaven knows? Maybe yes, but maybe no..

Lain lagi dengan kasus yang baru-baru ini mencuat, yakni plagiasi yang dilakukan oleh band power-pop pendatang baru di Indonesia, D’masiv. Band yang saya akui materi albumnya bagus, dengan karakter sound yang western sekali, vocal yang tidak melayu atau cukup berbeda dengan teman-teman vokalis yang lain, live performance yang bersih, dan banyak lagi sisi “plus” nya. Tetapi di balik suksesi mereka ternyata beredar kabar bahwa beberapa lagu dari album “perubahan” tersebut memiliki kemiripan dengan lagu dari band-band luar negeri. Komentar pertama saya ketika menyaksikan berita tersebut di salah satu stasiun televisi swata (hanya satu stasiun yang menayangkan berita tersebut, sebuah stasiun yang saya tahu banyak melestarikan band-band dekil semacam kangen dan anak buahnya – I really really hate this band!) adalah mungkin hanya sebuah psychotherapy dari pihak yang kurang setuju dengan kesuksesan d’masiv. Tetapi setelah saya dengarkan lagu-lagu tersebut memang terdapat beberapa pattern yang entah sengaja atau tidak, hampir sama dengan karya band impor tersebut. Tetapi sebuah lagu dari switchfoot yang berjudul head over heels (in this life) memang tidak bisa dipungkiri kesamaannya dengan lagu d’masiv yang berjudul “dan kamu”, mulai beat drum dari intro lagu, kemudian permainan gitar, sampai sebagian besar intonasi vokal sangat mirip, plek! Belum lagi di lagu-lagu yang lain yang beberapa bagiannya mirip dengan lagu Muse (soldier’s poem), Incubus (drive), fall out boy (vibra nya), panic! At the disco (camisado), keane (is it any wonder?), dan mungkin masih ada yang lain yang belum sempat diteliti. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh superband yang baru saja menggelar konser terakhir dengan nama peterpan. Sekitar tahun 2003/2004 ketika baru muncul album mereka yang bertitel “Bintang di Surga” kebetulan saya mengutak atik sebuah album dari band pop luar negeri, MEW dan menemukan nada-nada yang saya ingat sebagai lagu dari peterpan. Malahan dari album MEW tersebut (saya lupa judul albumnya,J) terdapat dua lagu yang hampir sama dengan dua lagu peterpan di album tersebut. Nah!

Ketika dikonfirmasi dengan d’masiv, mereka beralasan bahwa band-band diatas adalah influence mereka dalam bermusik. Memang saya juga pernah merasakan bagaimana sebuah band yang menjadi influence terbesar terkadang seringkali terbawa ke dalam aransmen musik yang dibuat. Bayangkan bila seumpama anda suka dengan sebuah band, katakanlah Every Time I Die. Otomatis lagu-lagu dari ETID akan selalu ada di playlist anda setiap hari sebagai mayoritas. Kemudian anda disaat menciptakan pattern musik pasti akan tercipta sebuah pattern yang tidak jauh berbeda dengan milik ETID, meskipun hanya pada sedikit bagian dan salah satu instrumennya. Saya teringat akan petuah seorang gitaris FAN yang setahu saya dia sangat terinfluence dengan radiohead. Tetapi ok, dia selalu mendengarkan radiohead di kesehariannya, tetapi bila sudah berhubungan dengan bandnya maka ia berusaha sebisa mungkin membuang radiohead dari pikirannya, dan hasilnya? Musik dari FAN terdengar sangat aneh, sakit sekali, tetapi saya yakin itu adalah sebuah karya dari mimpinya sendiri. Kembali pada d’masiv, rupanya kasus tersebut menimbulkan pro-kontra baik di dunia nyata maupun dunia maya. Para pemilik blog yang mem-post sebuah komentarnya mengenai hal tersebut, kemudian dibalas comment oleh pembacanya. Yang terjadi selanjutnya adalah, perang kata. Sangat tragis memang bila dilihat, karena justru pendengar yang bijak harusnya mampu paling tidak menghormati sebuah karya dari band yang saya yakin sebelum mencuat berita tersebut adalah salah satu fans yang akhirnya menjadi ilfil akibat terpantik api berita miring tersebut. Memang sejauh pengetahuan saya d’masiv sebelum menjadi band fenomenal yang muncul di permukaan adalah band sekelas festival. Bukannya merendahkan, tetapi jalan yang mereka ambil sebagai jembatan kesuksesan sekarang hanyalah sekedar ajang pencarian bakat dari sebuah perusahaan rokok ternama yang menghasilkan band-band biasa, bukan band indie layaknya perusahaan rokok yang enjoy aja tersebut. Kemudian juga beredar lagu dari NAFF yang berjudul “Akhirnya ku menemukanmu”, yang di cover oleh d’masiv dan itu direcord sebelum album mereka dirilis. Bisa jadi memang d’masiv sering meng-cover lagu dari grup band yang lain ketika di ajang festival, sehingga kebiasaan tersebut terbawa sampai kepada materi lagunya sendiri.

Dengan keadaan seperti ini, maka persoalan yang harus dijawab adalah bagaimana menyikapi kasus plagiatisme. Bukan berlomba-lomba memerangi, tetapi lebih kepada langkah antisipasif mencegah terjadinya hal tersebut. Plagiasi adalah hal yang sangat susah dihilangkan, karena selain sudah menjadi kebiasaan, juga karena perbedaannya dengan inspirator atau influence sangat tipis, tipis sekali sehingga terkadang kita kurang bisa membedakan dua hal tersebut, kemudian berpendapat dimana orang lain tidak mampu menerima pendapat tersebut. Memang setiap orang berhak berkomentar, tetapi alangkah baiknya bila komentar-komentar tersebut hanya sebagai alat tukar pendapat, sekedar share tentang masalah yang terjadi, bukan malah beradu argumen dengan kepala yang menyala-nyala. Sukur-sukur kalau dengan perbedaan argument setiap orang menjadi lebih berwawasan luas dan mampu membuka pikiran sendiri dan terbuka dengan orang lain. Yah, semoga pendengar atau pembaca mampu bersikap bijak dengan perbedaan mereka..

God bless yerself..

Written by : @tnk – [MLG]

Pengikut

I tell you who I am..

Foto saya
seorang pemuda yang tergilas arus global, berusaha untuk diakui meskipun sebenarnya sudah.. hidup di sebuah kota yang luar biasa.. bergabung dengan sebuah band bernama PICKWOLF,,dan sedang menyelesaikan tahap akhir untuk gelar sarjana sosial..