
Salah satu sebab kenapa musik di
Plagiasi adalah sebuah kejahatan seni, pencurian ide atau hasil karya orang lain yang dilakukan secara sengaja dimana hanya merubah identitas asli dengan yang baru. Bisa dikatakan bahwa plagiasi adalah menyontek, seperti saat kita ujian sekolah, dimana hasilnya sama tetapi berbeda nama. Plagiasi kerap terjadi di segala aspek kegiatan manusia, mulai dari pendidikan, bisnis, sosial budaya, sampai pada bidang seni. Disini saya tidak dapat berkalkulasi di bidang mana plagiasi paling banyak dilakukan, karena hal tersebut merata pada tiap-tiap bagiannya. Di pendidikan, mulai dari para siswa SD yang sudah diajarkan meng ”copy-paste” tugas-tugas maupun materi dari internet bahkan sampai pada tahap skripsi yang dilakukan para mahasiswa tidak lepas dari plagiasi. Di bidang bisnis malah tidak perlu ditanyakan lagi. Dalam bisnis barang siapa yang bisa meraup keuntungan melimpah maka pengikutnya akan bertambah banyak dan itu sudah seperti hukum alam yang tidak bisa dirubah. Dari aspek sosial budaya, yang mana terdapat unsur seni di dalamnya adalah aspek yang sepertinya paling anti dengan plagiasi, tetapi hal tersebut tetap berkembang meskipun dari para pelakunya terkadang beralasan mengenai kemiripan sebuah karya adalah sebuah ketidak sengajaan. Tetapi bila ditelisik beberapa karya “baru” yang disandingkan dengan karya asalnya akan terpikir sebuah kata, Mustahil! Ya, sangat mustahil bila sebuah kemiripan menjadi alasan beberapa oknum untuk menghindari kata plagiasi. Contoh kasus ketika tempo lalu beredar di internet dimana sebuah lagu daerah dari
Lain lagi dengan kasus yang baru-baru ini mencuat, yakni plagiasi yang dilakukan oleh band power-pop pendatang baru di Indonesia, D’masiv. Band yang saya akui materi albumnya bagus, dengan karakter sound yang western sekali, vocal yang tidak melayu atau cukup berbeda dengan teman-teman vokalis yang lain, live performance yang bersih, dan banyak lagi sisi “plus” nya. Tetapi di balik suksesi mereka ternyata beredar kabar bahwa beberapa lagu dari album “perubahan” tersebut memiliki kemiripan dengan lagu dari band-band luar negeri. Komentar pertama saya ketika menyaksikan berita tersebut di salah satu stasiun televisi swata (hanya satu stasiun yang menayangkan berita tersebut, sebuah stasiun yang saya tahu banyak melestarikan band-band dekil semacam kangen dan anak buahnya – I really really hate this band!) adalah mungkin hanya sebuah psychotherapy dari pihak yang kurang setuju dengan kesuksesan d’masiv. Tetapi setelah saya dengarkan lagu-lagu tersebut memang terdapat beberapa pattern yang entah sengaja atau tidak, hampir sama dengan karya band impor tersebut. Tetapi sebuah lagu dari switchfoot yang berjudul head over heels (in this life) memang tidak bisa dipungkiri kesamaannya dengan lagu d’masiv yang berjudul “dan kamu”, mulai beat drum dari intro lagu, kemudian permainan gitar, sampai sebagian besar intonasi vokal sangat mirip, plek! Belum lagi di lagu-lagu yang lain yang beberapa bagiannya mirip dengan lagu Muse (soldier’s poem), Incubus (drive), fall out boy (vibra nya), panic! At the disco (camisado), keane (is it any wonder?), dan mungkin masih ada yang lain yang belum sempat diteliti. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh superband yang baru saja menggelar konser terakhir dengan nama peterpan. Sekitar tahun 2003/2004 ketika baru muncul album mereka yang bertitel “Bintang di Surga” kebetulan saya mengutak atik sebuah album dari band pop luar negeri, MEW dan menemukan nada-nada yang saya ingat sebagai lagu dari peterpan. Malahan dari album MEW tersebut (saya lupa judul albumnya,J) terdapat dua lagu yang hampir sama dengan dua lagu peterpan di album tersebut. Nah!
Ketika dikonfirmasi dengan d’masiv, mereka beralasan bahwa band-band diatas adalah influence mereka dalam bermusik. Memang saya juga pernah merasakan bagaimana sebuah band yang menjadi influence terbesar terkadang seringkali terbawa ke dalam aransmen musik yang dibuat. Bayangkan bila seumpama anda suka dengan sebuah band, katakanlah Every Time I Die. Otomatis lagu-lagu dari ETID akan selalu ada di playlist anda setiap hari sebagai mayoritas. Kemudian anda disaat menciptakan pattern musik pasti akan tercipta sebuah pattern yang tidak jauh berbeda dengan milik ETID, meskipun hanya pada sedikit bagian dan salah satu instrumennya. Saya teringat akan petuah seorang gitaris FAN yang setahu saya dia sangat terinfluence dengan radiohead. Tetapi ok, dia selalu mendengarkan radiohead di kesehariannya, tetapi bila sudah berhubungan dengan bandnya maka ia berusaha sebisa mungkin membuang radiohead dari pikirannya, dan hasilnya? Musik dari FAN terdengar sangat aneh, sakit sekali, tetapi saya yakin itu adalah sebuah karya dari mimpinya sendiri. Kembali pada d’masiv, rupanya kasus tersebut menimbulkan pro-kontra baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Dengan keadaan seperti ini, maka persoalan yang harus dijawab adalah bagaimana menyikapi kasus plagiatisme. Bukan berlomba-lomba memerangi, tetapi lebih kepada langkah antisipasif mencegah terjadinya hal tersebut. Plagiasi adalah hal yang sangat susah dihilangkan, karena selain sudah menjadi kebiasaan, juga karena perbedaannya dengan inspirator atau influence sangat tipis, tipis sekali sehingga terkadang kita kurang bisa membedakan dua hal tersebut, kemudian berpendapat dimana orang lain tidak mampu menerima pendapat tersebut. Memang setiap orang berhak berkomentar, tetapi alangkah baiknya bila komentar-komentar tersebut hanya sebagai alat tukar pendapat, sekedar share tentang masalah yang terjadi, bukan malah beradu argumen dengan kepala yang menyala-nyala. Sukur-sukur kalau dengan perbedaan argument setiap orang menjadi lebih berwawasan luas dan mampu membuka pikiran sendiri dan terbuka dengan orang lain. Yah, semoga pendengar atau pembaca mampu bersikap bijak dengan perbedaan mereka..
God bless yerself..
Written by : @tnk – [MLG]
